Kamis, 17 Juli 2014

Ilusi Cinta
My reason abandoning debate, politics, and law ...

Cinta adalah suatu perasaan yang mungkin sulit dijelaskan dengan rangkaian kata. Karena ya, ‘cinta’ mewakili banyak perasaan. Tanpa aku jabarkan di sini pun, aku rasa kalian tau. Karena pun, kalian mempunyai cinta di dalam hati kalian.
Namun terkadang, cinta datang sebagai ilusi. Kalian tau fatamorgana, kan? Iya, fatamorgana. Cinta seperti itu adalah cinta yang rapuh, serapuh tulang tulang ayam dilindas truk semen, mungkin. Mungkin saat ini cinta itu terlihat begitu indah, bersinar, kokoh, atau apalah yang kalian bisa gunakan untuk menyebut sesuatu yang menarik hati. Namun lama kelamaan, seiring dengan berlalunya waktu, keindahan itu sirna, gemerlap itu padam, segala kekokohan akhirnya terhancurkan.
Rasanya seperti apa? Bagiku, seperti berhadapan dengan Death Eater ... Semua bahagia dan cinta sirna ... Kosong ... Hampa ...
Mungkin seperti itulah cintaku pada debat, politik, hukum, dan ketatanegaraan ... Sebuah ilusi cinta.
Dimulai dari debat ... Karena segalanya berawal dari sini. Mungkin selama 3 tahun pertama aku merasa sangat nyaman. Berinteraksi dengan banyak orang, bertukar pendapat, melihat masalah dari berbagai sisi, berdiskusi, banyak hal yang bisa ku dapatkan. Seiring dengan berjalannya waktu, terlalu banyak konflik tersulut. Semuanya mulai bermigrasi ke kehidupan nyata. ‘Katanya debator? Ayo debat’ ... Mungkin menjadi kata yang memasuki area blacklist. Emosi emosi negatif mulai menginvasi, dan itu terasa begitu mengerikan bagi seorang intrapersonal sekaligus interpersonal sepertiku. 
wujudku ... dan tim debat junior (waktu itu)

Menyoal politik ... Dari debat lah aku sempat tertarik dengan dunia politik. Tapi yah .... Ilusi ... Lama kelamaan dunia ini benar benar menjadi dunia yang tidak nyaman. Dunia politik adalah dunia di mana manusia manusia merasa bak dewa. Merasa suci, bersih, dan benar. Dunia di mana keserakahan dan keegoisan adalah raja. Kemenangan, harta, tahta, segala kenikmatan duniawi adalah titah raja yang wajib untuk didapatkan. Tak peduli apakah itu harus menipu, ataukah menjegal seseorang yang mereka akui sebagai ‘sahabat’ Sebuah dunia di mana manusia membutuhkan berbagai macam topeng untuk bertahan ... Sedangkan aku adalah seorang yang  apa adanya, dan menyukai kedekatan personal dengan banyak orang, di mana aku bisa memahami mereka ... Dunia yang penuh dengan kelicikan sama sekali bukanlah habitatku ...
Tentang Hukum ... Banyak orang  yang menanyakan kepadaku, alasanku melepaskannya. Tentu saja, seperti keputusan keputusanku selama ini, aku mempunyai alasan kuat di dalam diriku. Entah berapa malam aku habiskan untuk terjaga, merenungkan banyak hal, termasuk ini. Bagaimanapun, aku merasakan betapa sombongnya aku di masa lalu, aku yang menginginkan untuk menjadi seorang hakim, seorang yang membantu membawa keadilan bagi rakyat Indonesia. Betapa sombongnya aku ... Sedangkan bagi manusia, keadilan adalah suatu hal yang relatif. Sangat relatif. Sedangkan Allah lah seadil adil hakim ...
Betapa sombongnya aku yang pernah mengatakan bahwa aku tidak akan tergoda dengan derasnya suap, dan uang haram apapun itu. Sombongnya aku ... Sedangkan aku ini hanyalah seorang gadis biasa, bukan Rasulullah yang Ma’sum, terjauh dari dosa. Mungkin saat ini aku mampu beridealis semacam itu. Mungkin. TAPI, akhirnya aku menyadari bahwa kehidupan manusia merupakan sebuah perjalanan. Banyak hal yang akan ku temui, hadapi. Hal hal yang akan mengubahku. Cara pandangku, pemikiranku, objektivitas, keinginan, nafsu, banyak hal yang akan berubah. Lalu, adakah aku mampu?
Betapa sombongnya aku ...
Setelah tersadarkan dari fatamorgana, akhirnya aku kembali ... Kembali ke dunia tempatku terbiasa hidup, bermimpi, dan bertumbuh. Alam. Kembali ke fitrah ku sebagai khalifah di bumi, mengelola dan memanfaatkan bumi Allah. And ... Here I am. Faculty Biology of Gadjah Mada J

Segala yang ku tuliskan di atas hanyalah hasil perenungan saya, tentang opini dan perasaan saya. No Offense. Silahkan bagi kalian yang memang menyukai dunia debat, politik, maupun hukum. Insyaallah, segalanya akan baik jika diikhtiarkan dengan baik J