Ilusi Cinta
My reason abandoning debate, politics, and law ...
Cinta adalah suatu perasaan yang mungkin sulit dijelaskan
dengan rangkaian kata. Karena ya, ‘cinta’ mewakili banyak perasaan. Tanpa aku
jabarkan di sini pun, aku rasa kalian tau. Karena pun, kalian mempunyai cinta
di dalam hati kalian.
Namun terkadang, cinta datang sebagai ilusi. Kalian tau
fatamorgana, kan? Iya, fatamorgana. Cinta seperti itu adalah cinta yang rapuh,
serapuh tulang tulang ayam dilindas truk semen, mungkin. Mungkin saat ini cinta
itu terlihat begitu indah, bersinar, kokoh, atau apalah yang kalian bisa
gunakan untuk menyebut sesuatu yang menarik hati. Namun lama kelamaan, seiring
dengan berlalunya waktu, keindahan itu sirna, gemerlap itu padam, segala
kekokohan akhirnya terhancurkan.
Rasanya seperti apa? Bagiku, seperti berhadapan dengan
Death Eater ... Semua bahagia dan cinta sirna ... Kosong ... Hampa ...
Mungkin seperti itulah cintaku pada debat, politik,
hukum, dan ketatanegaraan ... Sebuah ilusi cinta.
Dimulai dari debat ... Karena segalanya berawal dari
sini. Mungkin selama 3 tahun pertama aku merasa sangat nyaman. Berinteraksi
dengan banyak orang, bertukar pendapat, melihat masalah dari berbagai sisi,
berdiskusi, banyak hal yang bisa ku dapatkan. Seiring dengan berjalannya waktu,
terlalu banyak konflik tersulut. Semuanya mulai bermigrasi ke kehidupan nyata.
‘Katanya debator? Ayo debat’ ... Mungkin menjadi kata yang memasuki area
blacklist. Emosi emosi negatif mulai menginvasi, dan itu terasa begitu
mengerikan bagi seorang intrapersonal sekaligus interpersonal sepertiku.
![]() |
| wujudku ... dan tim debat junior (waktu itu) |
Menyoal politik ... Dari debat lah aku sempat tertarik
dengan dunia politik. Tapi yah .... Ilusi ... Lama kelamaan dunia ini benar
benar menjadi dunia yang tidak nyaman. Dunia politik adalah dunia di mana
manusia manusia merasa bak dewa. Merasa suci, bersih, dan benar. Dunia di mana
keserakahan dan keegoisan adalah raja. Kemenangan, harta, tahta, segala
kenikmatan duniawi adalah titah raja yang wajib untuk didapatkan. Tak peduli
apakah itu harus menipu, ataukah menjegal seseorang yang mereka akui sebagai
‘sahabat’ Sebuah dunia di mana manusia membutuhkan berbagai macam topeng untuk
bertahan ... Sedangkan aku adalah seorang yang
apa adanya, dan menyukai kedekatan personal dengan banyak orang, di mana
aku bisa memahami mereka ... Dunia yang penuh dengan kelicikan sama sekali
bukanlah habitatku ...
Tentang Hukum ... Banyak orang yang menanyakan kepadaku, alasanku
melepaskannya. Tentu saja, seperti keputusan keputusanku selama ini, aku
mempunyai alasan kuat di dalam diriku. Entah berapa malam aku habiskan untuk
terjaga, merenungkan banyak hal, termasuk ini. Bagaimanapun, aku merasakan
betapa sombongnya aku di masa lalu, aku yang menginginkan untuk menjadi seorang
hakim, seorang yang membantu membawa keadilan bagi rakyat Indonesia. Betapa
sombongnya aku ... Sedangkan bagi manusia, keadilan adalah suatu hal yang
relatif. Sangat relatif. Sedangkan Allah lah seadil adil hakim ...
Betapa sombongnya aku yang pernah mengatakan bahwa aku
tidak akan tergoda dengan derasnya suap, dan uang haram apapun itu. Sombongnya
aku ... Sedangkan aku ini hanyalah seorang gadis biasa, bukan Rasulullah yang
Ma’sum, terjauh dari dosa. Mungkin saat ini aku mampu beridealis semacam itu.
Mungkin. TAPI, akhirnya aku menyadari bahwa kehidupan manusia merupakan sebuah
perjalanan. Banyak hal yang akan ku temui, hadapi. Hal hal yang akan
mengubahku. Cara pandangku, pemikiranku, objektivitas, keinginan, nafsu, banyak
hal yang akan berubah. Lalu, adakah aku mampu?
Betapa sombongnya aku ...
Setelah tersadarkan dari fatamorgana, akhirnya aku
kembali ... Kembali ke dunia tempatku terbiasa hidup, bermimpi, dan bertumbuh.
Alam. Kembali ke fitrah ku sebagai khalifah di bumi, mengelola dan memanfaatkan
bumi Allah. And ... Here I am. Faculty Biology of Gadjah Mada J
Segala yang ku tuliskan di atas hanyalah hasil perenungan
saya, tentang opini dan perasaan saya. No Offense. Silahkan bagi kalian yang
memang menyukai dunia debat, politik, maupun hukum. Insyaallah, segalanya akan
baik jika diikhtiarkan dengan baik J
